riau24

logo riau24
Informasi Anda Genggam

Ketika Soeharto Melarang Wartawan Australia Masuk Indonesia Karena Risih Bisnis Keluarganya Disoroti

TIM Archive
Rabu, 15 Maret 2017 | 14:39 WIB
Ketika Soeharto Melarang Wartawan Australia Masuk Indonesia Karena Risih Bisnis Keluarganya Disoroti Ketika Soeharto Melarang Wartawan Australia Masuk Indonesia Karena Risih Bisnis Keluarganya Disoroti
Jakarta, Riau24.comKetegangan hubungan kedua negara ini dimulai pada tahun 1974, ketika itu Portugal mengalami “revolusi” yang menghasilkan keputusan untuk memberikan pemerintahan sendiri kepada koloninya yaitu Timor Timur. Proses dekolonisasi tersebut jauh dari lancar.

Mengapa?

Karena pemerintah Indonesia takut Timor Timur akan menjadi Kuba di Asia Tenggara karena kemunculan Fretilin di Timor Timur yang berhaluan kiri yang mengancam stabilitas politik Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melakukan intervensi terhadap Timor Timur dan memasukkan wilayah Timor Timur menjadi wilayah Indonesia.

Pada tahun yang sama pula, Perdana Menteri Australia Gough Whitlam mengunjungi Indonesia dan mengetahui kabar bahwa Timor Timur masuk ke wilayah kedaulatan Indonesia dan Australia juga tidak keberatan dan mendukung tindakan Indonesia tersebut.

Namun, hubungan kedua negara tersebut menegang karena Australia menolak cara Indonesia yang melakukan kekerasan dalam menduduki wilayah Timor Timur. Faktor lain yang menyebabkan kedua negara tersebut menegang karena disinyalir wartawan Australia dibunuh oleh tentara Indonesia saat meliput invasi Indonesia ke Timor Timur. Namun demikian, Australia berupaya memperbaiki hubungan dengan Indonesia.
 

Pada tahun 1976 setelah peristiwa integrasi Timor Timur, Perdana Menteri Australia Malcolm Fraser, membuat sebuah pertanyaan yang membuat gusar Indonesia meskipun Australia menyatakan hal tersebut merupakan kesalahpahaman.

Untuk memperbaiki hubungan kedua negara tersebut Fraser mengunjungi Indonesia dan memberikan pujian kepada Indonesia serta membuat pernyataan yang menyatakan bahwa Austalia mengakui integrasi Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia secara de jure. Hubungan kedua negara tersebut kembali menegang di tahun 1977 ketika mantan konsul Australia di Timor Timur, James Dunn, memberikan kesaksian di depan Senat Amerika atas kekejaman Indonesia di Timor Timur dan pemerintah Indonesia melakukan protes akan hal tersebut.

Pada tahun 1984, Indonesia kembali marah terhadap Australia atas kunjungan Perdana Menteri Fretilin ke Australia. Indonesia memandang pemberian visa kepada Jose Ramos Horta sebagai tindakan bermusuhan.

Situasi juga semakin memburuk ketika Menlu Australia Bill Hayden, berkomentar dalam suatu wawancara akan terus mengkritik Indonesia selama kegiatan-kegiatan “pasukan kematian” (death squad) terus berlangsung di Timor Timur. Hal lain yang menyebabkan kedua negara tersebut bersitegang karena antagonisme Pemerintah Indonesia dan pers Australia yang terus mengkritik kebijakan politik luar negeri Indonesia di Timor Timur.

Pada tahun 1986, seorang editor Sydney Morning Herald bernama Jenkins menulis sebuah artikel yang kembali membuat marah pemerintah Indonesia, yang berisi mengungkapkan jaringan usaha keluarga Soeharto.

Dampak dari peristiwa tersebut adalah seluruh wartawan Australia dilarang masuk ke wilayah Indonesia, turis Australia yang memasuki Indonesia tanpa visa akan dipulangkan tapi kewenangan tersebut dicabut oleh pemerintah Indonesia.   (***)




R24/dev 

Penulis TIM Archive
INDEX BERITA