riau24

logo riau24
Informasi Anda Genggam

Mengenang Kebiadaban Ariel Sharon, Pemimpin Israel Yang Mati Membusuk

TIM Archive
Jumat, 22 Desember 2017 | 09:28 WIB
Ariel Sharon Ariel Sharon
Riau24.com - Berbicara soal kekejaman Israel terhadap warga Palestina, maka dunia tidak akan pernah melupakan Nama Ariel Sharon. Betapa tidak, semasa berkuasa, Ariel Sharon dikenal banyak melakukan pembunuhan massal, terutama terhadap warga Palestina termasuk ribuan korban tewas di kamp pengungsi Palestina Sabra dan Shatila di Lebanon pada 1982 oleh pasukan Zionis Israel dibawah pimpinan Sharon, sehingga ia dijuluki sebagai Zionis "Sang Jagal".

Sebutan “Sang Jagal” bukan isapan jempol semata, Ariel Sharon juga menjadi arsitek salah satu pembantaian terbesar yang dilakukan tentara penjajah Israel (Israeli Defense Forces -IDF) ‘Unit 101’di Qibya, Tepi Barat pada 1982, membunuh 66 warga sipil tak bersenjata. Pasukan IDF ‘Unit 101’ yang dipimpin oleh Ariel Sharon, bahkan meledakkan rumah-rumah dengan para penghuni masih berada di dalamnya.

Dikutip dari radio alfatah.net, Pria yang lahir di Kfar Malal, Mandat Britania atas Palestina, 26 Februari 1928 ini mengulangi operasi militer yang sama di beberapa desa lainnya termasuk pada Agustus 1953, sebagai komandan 101 Unit, Sharon memimpin serangan terhadap kamp pengungsi Al-Bureij, selatan Jalur Gaza, menewaskan lebih dari 50 orang.

Laporan mencengangkan dikutip dari buku “The Veritas Handbook: A Guide to Understanding the Struggle for Palestinian Human Rights, 2010”, di mana para pengamat PBB yang tiba dua jam setelah serangan itu mengatakan: "mayat-mayat penuh peluru di dekat pintu dan beberapa bekas tembusan rentetan peluru terpampang di pintu rumah yang dihancurkan, menunjukkan bahwa penduduk telah dipaksa untuk tetap berada di dalam, hingga rumah mereka diledakkan dan runtuhannya menimpa mereka."

Para pengamat PBB lebih lanjut melaporkan bahwa "saksi mata menggambarkan pengalaman mereka sebagai malam horor, di mana tentara penjajah Israel bergerak di sekitar desa seketika meledakkan bangunan, menembak ke arah pintu dan jendela dengan senjata otomatis, dan melemparkan granat tangan ke dalamnya."

Kecaman internasional pun dikeluarkan atas pembantaian Qibya dan menyerukan mereka yang bertanggung jawab atas pembantaian itu dibawa ke pengadilan. Namun, tidak ada tindakan disipliner yang diambil terhadap tentara IDF yang terlibat  dalam aksi pembantaian Qibya. Bahkan lulusan sekolah militer di Camberley Staff College, Inggris ini kemudian menjadi menteri pertahanan dan akhirnya menjadi perdana menteri Israel.

Tidak ada angka yang akurat untuk jumlah orang yang meninggal dunia dalam pembantaian itu. Penyelidikan resmi Israel di bawah Komisi Kahan menyimpulkan bahwa antara 700 dan 800 orang dibunuh. Wartawan Robert Fisk, yang merupakan salah satu orang pertama di tempat kejadian setelah pembantaian itu, menyimpulkan bahwa 1.700 orang kehilangan nyawa mereka. Sementara itu, estimasi Bulan Sabit Merah Palestina adalah lebih dari 2.000 jiwa melayang. Penelitian Amnon Kapeliouk, seorang wartawan dan penulis asal Israel "Sabra dan Shatila: Inquiry to be Massacre", menempatkan angka antara 3.000 dan 3.500 orang meninggal.

Kebiadaban Ariel Sharon saat pembantaian di Kamp Sabra dan Shatila yang terkenal adalah; mengambil seorang bayi dari ibunya dan dilempar ke dinding. Seorang anak perempuan berusia 10 tahun digorok dengan kejam dan matanya diambil. Sekumpulan keluarga, disuruh berbaris di depan rumah dan ditembak. Wanita hamil, digorok dengan kaki terbuka luas, dan mengiris perut wanita hamil tersebut, kemudian ia meninggalkan perempuan itu hingga menemui ajal bersama kandungannya.

Dua puluh tahun kemudian, pada April 2002, Sharon juga memerintahkan pembunuhan di kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat yang diduduki. Menurut Pusat Informasi Palestina Badil:"... pada saat serangan militer berakhir pada 11 April 2002, diperkirakan lebih dari 50 warga Palestina meninggal dunia sekitar 10 persen dari kamp, termasuk ratusan tempat penampungan pengungsi, telah benar-benar diratakan.."

Perdana Menteri Israel ke-11 itu juga melakukan penodaan disertai dengan lebih dari 1.000 pasukan dan polisi paramiliter Israel untuk berjalan di  kompleks Al-Aqsha, terdapat Masjid Al-Aqsha dan Masjid Kubah Batu (Qubbatus Shakhrah), kiblat pertama umat Islam.

Penodaan Sharon di Al-Aqsha menjadi pemicu Intifadah Kedua (kebangkitan), beberapa hari kemudian, bentrokan penduduk Palestina dengan senjata seadanya, bongkahan batu, melawan pasukan perang Israel bersenjata lengkap, tak terelakan. Terjadi pembunuhan anak usia 12 tahun Mohamad Al-Durah saat ayahnya mencoba untuk melindungi dia dari tentara Israel yang bertekad untuk membunuh anak itu. Al-Durah, yang meninggal dalam pelukan ayahnya, menjadi lambang dari Intifadah Kedua, disebut Intifadah Al-Aqsha.

Intifahadah Al-Aqsha dari tahun 2000 sampai 2005 itu menjadi debut berdarah pada milenium baru di Wilayah Palestina yang terjajah. Korban tewas diperkirakan mencapai 3.000 orang Palestina dan 1.000 orang warga Israel; sementara itu, Sharon bersikeras bahwa semua yang dia inginkan adalah jalan damai di ‘Kuil Bukit’ menurut mitos Yahudi itu.

Ariel Sharon, akhirnya mati pada usia 85 tahun setelah tersiksa, sekarat dan membusuk selama delapan tahun. Sharon mengalami serangan stroke pada 2005 dan 2006 di tengah puncak kekuasaan politiknya. Sejak serangan itu ia berada dalam keadaan koma.***
Penulis TIM Archive
INDEX BERITA